Gudeg khas Yogya

Gudeg Yogya

Gudeg Yogya

Hai …. apa kabar Bunda?

Sudah lama sekali ya rasanya saya tidak posting. Maaf, sebagai ibu rumah tangga yang pekerja ternyata harus membagi-bagi waktu rupanya. Apalagi kalau sudah di rumah, tidak ada keinginan saya sedikit pun untuk bergerak membuka laptop, meski hanya sekadar sharing resep masakan. Sesekali postingan masakan omah ini saya kerjakan di sela-sela tugas kantor, ketika tugas kantor sudah membuat otak saya mau “meledak” hehe…

Di awal bulan November, kami di rumah harus menjadi tuan rumah sebuah komunitas keluarga muda berkumpul. Namanya keluarga maka yang berkumpul bukan hanya orangtuanya saja, tetapi juga anak-anak mereka yang beragam usianya. Nah, di sinilah letak uniknya.

Paling tidak saya harus menyajikan makan siang yang bisa diterima oleh beragam usia ini. Ada anak yang masih berumur balita, sementara ada orangtua yang sudah berumur lima puluh tahunan. Jadi, tidak semua tamu suka sajian pedas bukan?

Kalau biasanya ketika ada acara seperti ini di rumah, maka hidangan utama pasti ada tumis bunga pepaya, saya sempat tidak punya ide apa yang harus saya sajikan. Akhirnya pak suami mengusulkan, kebetulan ada teman dari suku Flores yang pengen sekali masakan gudeg komplit. Kenapa tidak coba?

Wah, sebuah tantangan nih. Saya sampai browsing, bagaimana caranya memasak gudeg yang benar-benar mirip gudegnya Yu Djum di Yogyakarta. Kunci utamanya adalah daun jati. Maka, saya pun meminta pak suami untuk browsing daun jati di sekitaran rumah. Mudah? Tidak juga. Kalau di Jawa sih gampang-gampang saja nyarinya. Ini di pinggiran kota. Ketika membonceng pak suami, saya pernah melihat sebuah kebon jati. Tapi itu jaraknya cukup lumayan jauh dari rumah. Eh, kok ya pak suami nemu saja tidak jauh dari rumah rupanya.

Selain daun jati, untuk memasak gudeg hingga didapatkan yang seperti gudeg yogya itu ya dimasak dengan api kecil selama berjam-jam. Lebih enak sih memang memakai kuali dari tanah liat dan dimasak dengan kayu bakar. Sementara kami tinggal di pinggiran kota yang memakai kompor gas, ya apa boleh buat, memasaklah kami dengan kompor gas dengan api kecil. Karena kami tidak memiliki kuali dari tanah liat, ya akhirnya kami memakai panci dari alumunium saja.

Warna gudegnya memang mirip dengan gudeg Yu Djum yang terkenal di Yogyakarta. Apalagi kalau di “ngat-nget” terus, atau dipanasi terus. Warnanya akan semakin gelap, dan rasanya pun semakin mantap.

Bahan:

  • Nangka muda, sebisa mungkin gunakan nangka yang berwarna cokelat
  • Santan
  • Air kelapa
  • Gula merah
  • Daun salam
  • Lengkuas
  • Daun jeruk
  • Sereh
  • Garam secukupnya
  • 2 atau 3 lembar daun jati

Bumbu dihaluskan:

  • Ketumbar
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Kemiri

Cara membuat:

  • Nangka muda dipotong kecil-kecil.
  • Alasi panci dengan daun jati, lalu taruh di atas daun jati, daun salam, lengkuas, sereh, dan daun jeruk. Kemudian taruh bumbu halus, gula merah, dan garam.
  • Setelah itu masukkan potongan nangka muda.
  • Tambahkan air kelapa, banyaknya sejajar dengan jumlah nangka muda. Bila tidak cukup, tambahkan air.
  • Masak dengan api kecil.
  • Setelah 2 jam, cicipi dahulu, bila masih kurang manis bisa ditambahkan gula merah, atau bila kurang asin tambahkan garam.
  • Masukkan santan kental.
  • Lalu masak lagi dengan api kecil hingga 4 jam.
  • Diamkan semalam.
  • Esok pagi masak lagi dengan api kecil selama 1 jam. Atau bisa langsung disajikan, akan lebih enak lagi bila baru besok paginya lagi disajikannya.

Gudeg ini paling enak disajikan dengan tahu-tempe bacem dan sambal goreng krecek.

Penampakan gudeg hari  ke-4

Penampakan gudeg hari ke-4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s